Amazon Ad Tag

23 Desember 2008

Cuap tentang peradaban, ekonomi dan bunuh diri

Cina setelah melalui perjalanan sejarah yang panjang dengan perang saudara dan pergantian dinasti yang terus menerus berlangsung sambil mengembangkan tradisi dan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari, dalam satu gebrakan dihancurkan oleh pengaruh modernisasi dari barat yang dimulai dengan wabah candu opium. Setelah mental dan fisik masyarakat terkikis bersamaan dengan kemampuan ekonomi yg terkuras oleh kehausan akan narkotik tersebut, dimulailah juga yang namanya pembangunan ala barat.

Cina yang toleran disusupi oleh paksaan2 yang awalnya halus hingga menjadi kasar dan secara tidak langsung, usaha penjajahan tersistem seperti wilayah yg orang cina tidak boleh masuk, sampai perbudakan tidak langsung oleh tuan tanah barat. Ketika kemudian Jepang melaksanakan tujuan imperialisnya, akhirnya dipandang sebagai musuh juga oleh Cina. Setelah mampu mempertahankan diri dari penjajahan, akhirnya keputusan untuk membangun ekonomi dan pembangunan menjadi misi yang dilaksanakan dengan mengubah ideologi negara menjadi sistem sosialis komunis (yang perlahan-lahan bertransformasi menjadi kapitalis oleh rakyatnya seperti sekarang ini).

Dr. Sun Yat Sen (1866 - 1925) pemimpin nasionalis dan revolusionis cina pernah mengatakan hal berikut yang menjadi kata mutiara kebanggaan cina untuk menentang barat yang dibenci, "Peradaban eropa dan amerika benar-benar materialistik. Tidak ada yang lebih vulgar, brutal, dan menakutkan daripada peradaban mereka. Kami orang cina menyebutnya barbarisme. Inferioritas kami sebagai sebuah kekuatan yang berasal dari fakta bahwa kami selalu memandang rendah dan menghindarinya. Cara orang cina adalah cara manusia dan moral". Coba kita tengok kembali kondisi cina saat sekarang ini ... yak ... apakah ini artinya cina telah berubah menjadi barbar? Menangiskah kau sekarang wahai Sun Yat Sen?

-----------------------

Tiap Dua Menit, Satu Penduduk China Bunuh Diri
Selasa, 9 Desember 2008 | 16:01 WIB

BEIJING, SELASA — Seorang bocah usia dua tahun menjadi yatim piatu di Chongzhou, China barat daya, menyusul kematian kedua orangtuanya akibat minum racun serangga setelah mereka bertengkar dengan sengit.

Tragedi ini, yang dilaporkan media pemerintah bulan lalu, merupakan kesaksian atas sisi gelap reformasi, yakni melonjaknya angka bunuh diri.

Rata-rata, setiap dua menit ada seorang penduduk China yang menghabisi nyawa sendiri sehingga negara berpenduduk terbesar di dunia itu mencetak rekor yang tak menggembirakan saat China akan merayakan 30 tahun perombakan ekonominya yang spektakuler.

"Dengan reformasi, masyarakat menjadi lebih rumit," kata Huo Datong, psikoanalis pertama yang membuka praktik di China.

"Individualisme menjadi semakin nyata dan berbagai masalah kejiwaan menjadi kian serius," katanya kepada AFP dari Chengdu, sebuah kota di China barat daya.

Sejak perombakan ekonomi dimulai pada 1978, Kerajaan Tengah itu telah melalui berbagai pergolakan yang luar biasa, dan demikian pula hati penduduknya yang berjumlah 1,3 miliar jiwa.

"Masyarakat telah tercerabut dari akarnya sebagai keluarga tradisional dan struktur marga telah tercerai-berai sehingga hubungan sosial menjadi tegang dan menempatkan pribadi dalam keadaan sangat tertekan," kata para pakar.

Dalam hanya satu generasi saja, peradaban China yang telah berusia satu milenium telah berubah menjadi satu masyarakat yang bertujuan hanya mengejar keuntungan semata, dengan berbagai konsekuensi yang nyata.

Dalam lomba untuk cepat-cepat menjadi kaya, budaya persaingan memberikan tekanan besar paling tidak pada anak-anak, yang biasanya tak mempunyai saudara kandung dan menghadapi harapan yang hampir tak mungkin bahwa orangtua mereka akan meraih sukses.

Di negara yang dulunya ada tiga atau empat generasi tinggal seatap, para orangtua kini ditinggalkan, sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sementara itu, para perantau pergi ke kota-kota untuk bekerja, dengan meninggalkan anak-anak mereka di desa.

"Kami menyaksikan semakin banyaknya pasien di rumah-rumah sakit jiwa yang berada di sana akibat pembangunan ekonomi yang telah menyebabkan ikatan kekeluargaan terlepas. Orang-orang kini menjadi lebih terasing dengan anggota masyarakat lainnya," ujar Huo.

Kini saatnya meraih berbagai kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi pendidikan, bersantai dan melakukan perjalanan, dan makin banyak orang berkesempatan menaiki anak tangga sosial ketimbang masa dahulu.

Meskipun demikian, pada saat bersamaan, banyak penduduk China merasa tak berdaya menghadapi rasa tak aman.

Pada masa lalu, Partai Komunis mengatur kehidupan setiap orang dengan menjamin "bakul nasi" berupa dukungan pemerintah, mulai dari buaian atau ayunan, hingga ke liang lahat. Semua hal ini sudah lenyap dan banyak penduduk China telah kehilangan pijakan.

Dengan sekitar 250.000 orang hingga 300.000 orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya, angka bunuh diri di negara itu merupakan seperempat dari jumlah bunuh diri global.

Banyak melanda wanita
"China merupakan satu-satunya negara di dunia yang menjadi tempat bagi lebih banyak wanita untuk menghabisi nyawanya ketimbang pria. Angka bunuh diri di kalangan kaum hawa mencapai 58 persen," kata para pakar.

Terutama sekali, wanita di kawasan perdesaan. Penyebab utamanya adalah mereka biasanya menanggung beban berat, yakni bekerja di ladang, mendukung kehidupan orangtua, dan membesarkan anak.

"Masyarakat menjadi semakin rapuh," kata Zhang Chun, Ketua Jaringan Pencegahan Bunuh Diri di Nanjing, China timur.

"Sejak terjadinya perubahan sosial yang cepat dan berlangsungnya pergesekan antara nilai-nilai tradisional dan modern, banyak orang kini berusaha mendapatkan kembali keseimbangan ini."

Bahkan, saat China berpindah posisi menjadi negara dengan perekonomian terkuat keempat di dunia, yang membuat banyak penduduknya bangga, bunuh diri telah menjadi penyebab utama kematian dalam kelompok populasi 15 hingga 34 tahun.

China juga menjadi salah satu negara yang langka, tempat bunuh diri lebih sering terjadi di perdesaan daripada di perkotaan. "Jumlah bunuh diri tiga atau empat kali lebih banyak ketimbang di kota," kata Yang Qing, Profesor Psikologi pada Universitas Shenzhen, China selatan.

Para ahli mengatakan, China terperangkap di tengah tuntutan yang seringkali bertentangan, yakni komunisme, konfusionisme, dan kapitalisme, dan mereka tak tahu yang mana yang harus diikuti.

"Ini tidak seperti di Barat, tempat mayoritas penduduk sudah memiliki keagamaan yang mantap," kata Zhu Wanli, seorang psikolog di Chongqing.

3 komentar:

chigi28 mengatakan...

kayaknya si zhu wanli itu asal ngomong dech ketua, masak msy Barat agama-nya dah mantap? bukannya yang sealiran sama V malah semakin banyak

Cina Murtad mengatakan...

emang aneh ^^ justru yang ga percaya agama makin banyak.

NikiWonoto mengatakan...

yoi. sama lah ama gua.
dulunya kristen. skarang uda lebih 'damai' dengan gaada agama, & just embrace this beautiful & mysterious Universe through Science :)