Amazon Ad Tag

Tampilkan postingan dengan label rusuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rusuh. Tampilkan semua postingan

12 Mei 2010

Cuap tentang Mei 1998

Masih ingatkah dulu, sesaat sebelum lengsernya diktator RI (istilah yang didapat menurut beberapa sumber) yang terlihat lembut berwibawa dan mampu menguasai Indonesia sejak 30-an tahun sebelumnya setelah secara sistematik mengkudeta presiden RI saat itu dengan menempatkannya sebagai pesakitan tahanan rumah?

Saat itu mahasiswa sedang panas-panasnya berkumpul berorasi dan menyuarakan pendapatnya, tidak puas akan kinerja kabinet pembangunan entah yang keberapa, yang semakin lama semakin memurukkan Indonesia dalam benaman hutang yang dalam dan berkali lipat. Sampai ada istilah, saat seorang bayi lahir di Indonesia, bayi itu sudah menanggung hutang sebesar puluhan juta rupiah. Ditambah bencana ekonomi dunia yang menekan dollar amerika, dan kebiasaan mata uang Indonesia yang berpedoman pada itu ikut pula terpuruk jatuh. Dari 1 USD yang seharga +/- Rp 2500,- saat itu, mampu terjun bebas mencapai seharga Rp 12.000,-!

Harga bahan baku, kebutuhan dasar, dan kepanikan menukar simpanan rupiahnya menjadi dollar turut membantu melejitnya harga dollar terhadap rupiah. Terima kasih kepada george soros yang dituding menjadi biang kerok tengkurapnya rupiah rata dengan tanah, dan IMF yang kebijakannya bukan membantu tapi malah menguburkan rupiah dengan sukses dan menjadikan banyak perusahaan lokal dibeli oleh konglomerat manca negara. Secara perlahan bangsa Indonesia menjadi kacung di wilayahnya sendiri.

Lalu sejalan dengan itu pula, mahasiswa/i yang terorganisir dalam senat didorong, dibakar, diarahkan, didanai, dan diprovokasi oleh beberapa pihak yang tampaknya ingin membuat goncangan politik yang telah stagnan selama puluhan tahun dalam cengkraman militer yang tentu saja dikuasai oleh jendral bintang lima kita. Beberapa mengharapkan bangkitnya demokrasi sebagai konsep turunan dari republik yang mendukung HAM agar berjaya di bumi Indonesia yang butuh tegaknya hukum berdasarkan HAM karena beragamnya budaya nusantara maupun serapan impor lewat agama ataupun gaya hidup. Namun ada juga yang nantinya bakal lupa diri dan ikut masuk dalam arus korupsi juga, terbukti kan sekarang seperti apa kondisi mental banyak wakil rakyat kita? Paling tidak sebagian masih menerbitkan harap deh.

Maraklah ajakan untuk berdemo yang diikuti mahasiswa/i berbagai kampus. Sampai muncul istilah yang kira-kira begini "kalau jadi mahasiswa/i tapi tidak ikut demo artinya tidak sadar politik dan tidak berjiwa pelajar tinggi". Ikut dalam demo merupakan suatu kebanggaan, adu fisik merupakan bukti ketangguhan jiwa muda. Dan imbalan lulusnya mata kuliah ataupun kompensasi jumlah bolos yang melebihi ketentuan menjadi harapan sebagian mahasiswa/i. Merekapun berduyun-duyun berkumpul di Atma Jaya dan Trisakti, Jakarta.

Berbagai orasi dari yang nasionalis sampai yang sinis terus bergema bersahut-sahutan dari dalam wilayah kampus, didengar oleh masyarakat di sekitarnya sebagai cuap-cuap yang inspiratif ataupun membosankan. Namun seperti pilihan para diktator lain seperti yang terjadi di lapangan Tiaanmen dulu, generasi mudapun ditindas dengan tekanan militer. Barisan angkatan bersenjata yang merapat menembok bagian luar kampus, diikuti dengan sniper bersenapan laras panjang memantau dari jauh aktivitas mahasiswa/i. Tekanan ini tidak membuat generasi muda jera, malah berpanas-panasan dengan pihak aparat. Mungkin hasil kebodohan tipe mahasiswa abadi yang doyannya nongkrong doang di kampus tiap hari, atau ulah penyusup yang bergaya mahasiswa dan melakukan provokasi agar ada bentrokan dengan tentara dan polisi.

Hal ini cukup menegangkan, sampai tiba-tiba *DOR* ada yang tergeletak di aspal bersimbah darah. Aneh, secara belum ada tanda-tanda ke arah rusuh namun aparat sudah menggunakan peluru tajam, bukan peluru karet seperti prosedur standar yang selayaknya dijalankan. Kejadian ini membuat bentrokan kedua pihak makin memanas, namun hentakan yang menghenyak sanubari ini telah menimbulkan luka yang membekas pada sejarah Indonesia. Belum lagi hilangkan tokoh-tokoh mahasiswa dan masyarakat yang kritis terhadap pemerintah saat itu, tidak pernah terungkap oknum pelaku dan kejelasannya kondisi mereka yang hilang sampai sekarang.

Yang menjadi titik merah yang menodai wajah bangsa Indonesia di mata dunia internasional adalah kejadian setelahnya. Ratusan orang yang tidak jelas darimana datangnya, berpakaian preman dan diturunkan dari truk-truk yang datang dari luar kota di titik-titik api yang kemudian disinyalir mengawali kerusuhan, dan memulai provokasi dengan merusak dan menjarahi berbagai target yang kabarnya telah ditandai. Lucunya masyarakat jakarta malah banyak ikut-ikutan, dan mewarnai kerusuhan itu dengan isu kebencian rasial, tentunya terhadap ras mongoloid turunan cina yang selama ini jadi target perang dingin lokal dan menyebar di wilayah nasional.

Berbagai teriakan (yang anehnya ditambah dengan seruan bernuansa agamis) membahana di jalur kerusuhan yang utamanya merambat di jalan-jalan besar. Kerugian yang hampir tak terhitung dialami oleh warga dari berbagai tingkat sosial, dari hilangnya usaha, tempat tinggal, maupun nyawa keluarga merupakan hal yang tidak dapat dihindari korban. Ironisnya, saat-saat ini dimanfaatkan oleh para biang kerok penjahat kelamin untuk mencari target wanita muda untuk diperkosa, beramai-ramai, bahkan sampai mati. Namun lucunya hal ini dibantah kebenarannya oleh wakil tokoh saat itu, sampai kemudian diluruskan dalam berbagai kesempatan. Jakarta lumpuh total dan bisa dimaklumi bila kemudian ditambah krisis moneter sebelumnya, kondisi mata uang rupiah sempat merosot sampai hampir mencapai Rp 17.000,- per USD.

Ingat-ingatlah, Mei 1998. Jangan pernah lupakan monumen kejatuhan moral bangsa Indonesia yang terburuk di penghujung abad 20.

------------------------------

Peristiwa Mei 1998
Korban dan Ruang Melawan Lupa
Rabu, 12 Mei 2010 | 09:27 WIB

KOMPAS.com — Orang berjalan cepat di trotoar. Mereka segera menepi ketika kuli angkut itu mendorong tumpukan kardus bekas pembungkus barang elektronik, seperti televisi dan home theater, berjalan dari arah berlawanan.
Mereka memperjuangkan kemanusiaan kita semua.

Priiittt! Suara peluit tukang parkir melengking memberi aba-aba. Waktu telah berjalan dan selama itu pula jejak-jejak kerusuhan Mei 1998 tidak lagi tampak. Toko-toko di bilangan Glodok telah pulih kembali, demikian juga di Mangga Dua, Jakarta.

Aroma alat elektronik yang baru dibuka dari kardusnya membubung. Di tempat yang sama, 12 tahun lalu, yang membubung adalah bau plastik gosong dalam hawa panas yang menyesakkan, menuai kengerian.

"Suasana sudah seperti biasa lagi. Bahkan, yang dulu habis sekarang sudah bangkit lagi," tutur Wie Tjiang (50), penjaga kedai kopi Tek Kie, Gang Gloria, di kawasan Glodok.

Ia masih ingat bagaimana api melalap toko-toko itu. Sebelumnya, warga telah menjarah habis isinya. Kedai kopi Tek Kie terhindar dari amukan massa kala itu karena kawasan di sekitar bekas Gedung Bioskop Gloria dijaga warga setempat. "Mereka katakan di sini yang punya pribumi," kata Wie Tjiang.

Meski begitu, amuk massa itu membuat sebagian warga China melarikan diri. Bahkan, sayup dalam segala kengerian yang terjadi kala itu, sebagian di antara mereka diperkosa. Teriakan mereka seolah senyap dalam teriakan: "Bakar! Bakar! Bakar!"

Ketika itu, jejak kengerian ada nyaris di setiap sudut Jakarta. Asap membubung tinggi dari gedung-gedung yang dibakar massa. Ruko-ruko dibongkar, digarong isinya. Dan, sejarah juga mencatat, sebagian dari massa itu pun jadi korban. Ratusan orang terjebak dalam gedung Toserba Yogya, Klender, Jakarta Timur, yang terbakar.

Ruang baru

Dalam hiruk-pikuk arus dunia hari ini, peristiwa 12 tahun itu nyaris terlupakan. Heboh skandal Century, mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan karut-marut kasus mafia hukum telah menyerap sebagian besar perhatian dan energi publik.

Hampir tak ada celah bagi para korban dan keluarga korban untuk mengambil perhatian itu. Padahal, apa yang mereka perjuangkan, yaitu keadilan, adalah upaya untuk memanusiakan kemanusiaan semua manusia. Kepedihan mereka karena kehilangan anak, kerabat, juga kehormatan, membuahkan demokrasi.

Sekjen Perhimpunan Pendidikan Demokrasi Robertus Robert dalam tulisannya berjudul "Merehabilitasi Konsep Politik" mengungkapkan, otoritarianisme itu seperti jahitan membutakan di pelupuk mata. Dan, demokrasi adalah momentum terbebasnya penglihatan sehingga dengan itu kita mampu menatap dunia.

Namun, pada saat bersamaan, di hadapan kita pun dihamparkan begitu banyak persoalan. Masyarakat Indonesia memasuki ruang baru dalam sejarahnya menjadi negara-bangsa.

Hanya saja, setelah 12 tahun ruang baru itu justru makin dipenuhi aneka persoalan yang tidak kunjung selesai. Bahkan, Indonesia dihadapkan pada terancamnya identitas kebangsaan, ancaman pada pelupaan terhadap persoalan masa lalu, serta terabaikannya pemenuhan keadilan bagi para korban.

"Kami membutuhkan tindakan konkret dari pemerintah, tidak sekadar basa-basi," kata Sumarsih, keluarga korban kasus Semanggi I.

Jika saat ini atmosfer penegakan hukum di Indonesia tengah gencar ditingkatkan tensinya, ia berharap pemerintah pun memberikan perhatian serius terhadap korban dan keluarga korban seperti peristiwa Mei 1998, Semanggi I, dan penghilangan paksa para aktivis.

Senada dengan itu, pendamping korban dari Kontras, Yati Andriani, mendesak pemerintah agar mengambil langkah aktif. Ia juga mendesak Kejaksaan Agung menuntaskan kasus-kasus itu. "Kami juga meminta kepada pemerintah agar menjelaskan dengan terbuka di mana para aktivis yang diculik," kata Yati.

Setidaknya korban membutuhkan ketegasan pemerintah terhadap upaya penegakan hukum dan keadilan, apalagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berjanji kepada perwakilan korban untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.

Namun, terlepas dari itu semua, ketika 12 tahun peristiwa Mei telah berlalu dalam awan sejarah, teriakan para korban masih terus berseru. Mutiara Andalas, mahasiswa program doktoral pada Jesuit School of Theology Berkeley, California, Amerika Serikat, mengemukakan, perjuangan korban sesungguhnya adalah upaya memperjuangkan kemanusiaan. "Mereka memperjuangkan kemanusiaan kita semua," tuturnya.

Mereka tak ubahnya pisau yang melepas ikatan yang membutakan mata. Seolah menjadi suluh bagi lahirnya demokrasi. Akankah semua diabaikan dalam lupa?

30 Juli 2009

Cuap tentang Bentrokan Uighur

Masih saja panas disana, tampaknya memang pemerintah meinlen masih terus mencari biang keributan itu, sampai dikeluarkan daftar tertuduh perusuh yang beredar luas. Sementara itu dari pihak uighur sendiri mengeluarkan pernyataan bahwa ada sejumlah besar orang suku uighur hilang (mencapai 10.000 dalam waktu singkat) namun ditolak oleh pemerintah. Tentu saja, sikap pemerintah sudah jelas, menjaga keteraturan dengan melenyapkan potensi kekacauan (dalam beberapa kasus bahkan ekstrim, gak boleh ngumpul kalau sampai 10 orang, dianggap berorganisasi dan berencana melawan pemerintah! contohnya kasus fa lun gong) yang bisa jadi memang didalangi oleh para perusuh dari uighur atau bahkan penyusup dari aliran keras.

Mengingat adanya pihak2 yang beraliran keras memakai pendekatan persamaan pandangan religi dan meruncingkan kondisi sosial masyarakat, bisa saja bila ternyata sebenarnya para provokator itu penyusup yang berasal dari luar cina untuk mengikis keamanan cina. Namun bisa juga cina telah melakukan penculikan tokoh2 uighur untuk mencari target yang mereka tetapkan, kedua bisa terjadi salah satunya, atau bahkan keduanya sekalipun mungkin saja. Yang penting sih, jangan sampai korbannya melulu rakyat tak berdosa yang terjepit di tengah pihak yang bertikai. Kalau memang perusuh itu ternyata provokator penyusup dari luar, semoga nasionalisme bangkit, kalau memang pemerintah memakai cara-cara tidak terpuji dan bertanggung jawab atas hilangnya para orang uighur, semoga kepedulian terhadap saudara sesama warga negara juga mampu bangkit membela yang lemah.

--------------------

China Bantah 10.000 Orang Uighur Hilang
Kamis, 30 Juli 2009 | 22:55 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Pemerintah provinsi Xinjiang, China, menolak pernyataan seorang pemimpin Uighur di pengasingan yang mengatakan bahwa hampir 10.000 orang hilang setelah kerusuhan etnik bulan ini di wilayah tersebut.

Juru bicara pemerintah Xinjiang, Hou Hanmin, mengatakan klaim yang disampaikan Rebiya Kadeer, pemimpin Uighur di pengasingan itu, "bahkan tidak pantas ditanggapi", dan sebagai "tuduhan tidak berdasar" sebagaimana laporan surat kabar berbahasa Inggris, Global Times.

Rebiya, mantan wanita pengusaha yang kini tinggal di Amerika Serikat, Rabu, mengatakan bahwa hampir 10.000 orang "hilang dalam satu malam" setelah terjadi bentrokan di Urumqi, ibukota Xinjiang, di China timur laut. "Masyarakat Uighur yang berada di sana harus dibunuh atau dihilangkan," katanya di Tokyo, Jepang.

Wanita juru bicara Xinjiang mengatakan, "Ada lebih dari 10.000 orang yang hilang, berapa banyak mereka yang ikut ambil bagian dalam kerusuhan?"

Pemerintah China mengatakan, Rebiya berada di balik kerusuhan 5 Juli, yang menewaskan 197 orang, dan sebagian besar dari mereka adalah suku Han, China, yang dibunuh oleh gerombolan Uighur yang marah.

China mengatakan, polisi melepas tembakan untuk mencegah meluasnya pertumpahan darah dan bahwa lebih dari 1.400 orang telah ditahan karena mereka terlibat dalam aksi kerusuhan itu.

Rebiya Kadeer, ketua Kongres Uighur Dunia—yang bermarkas di AS, membantah bahwa ia terlibat dalam aksi kerusuhan tersebut.

--------------------

Terkait Kerusuhan, China Keluarkan Daftar 15 Buronan
Kamis, 30 Juli 2009 | 14:34 WIB

BEIJING, KOMPAS.com-China mengeluarkan daftar 15 orang yang paling dicari di negeri itu yang diduga berperan besar dalam kerusuhan etnis di Xinjiang yang meledak awal bulan ini.

Kerusuhan, yang terjadi di wilayah barat Xinjiang antara warga minoritas suku Uighur dengan warga mayoritas suku Han, dilukiskan sebagai kerusuhan etnis terburuk di China dalam 10 tahun terakhir.

Pemerintah China mengatakan, 197 orang tewas dan lebih dari 1.700 orang lainnya luka-luka dalam kerusuhan tersebut. Aparat pemerintah menyebutkan, lebih dari 1.600 orang yang diduga terlibat dalam peristiwa itu telah ditahan.

Kantor berita resmi Xinhua melaporkan, Biro Keamanan Publik Urumqi, Kamis (30/7), mengumumkan daftar nama dan foto dari 15 orang paling yang dicari. Semua buronan, kecuali satu, yang tercantum dalam daftar itu adalah nama-nama orang Uighur. Yang satu lagi nama orang dari suku Han.

Pengumuman itu mendesak para tersangka untuk menyerahkan diri. "Orang yang menyerahkan diri dalam waktu 10 hari akan akan mendapat toleransi. Orang yang tidak menyerahkan diri akan dituntut sesuai dengan aturan perundang-undagan yang berlaku," demikian antara lain isi pengumuman tersebut.

Kerusuhan itu meletus sejak 5 Juli di Urumqi, ibu kota wilayah Muslim Xinjiang, ketika polisi menghentikan sebuah protes penduduk berbahasa Turkic-Uighur. Oran-orang Uighur memecahkan jendela, membakar mobil, dan menyerang orang-orang dari suku Han, kelompok etnis terbesar di China. Dua hari kemudian, orang-orang Han turun ke jalan-jalan dan menyerang orang-orang Uighur.

Pemerintah China berulang kali menyatakan bahwa kerusuhan tersebut
didalangi kaum separatis yang bekerja di dalam dan di luar negeri. Namun Pemerintah China hanya punya sedikit bukti untuk mendukung tuduhan itu.

12 Juli 2009

Cuap tentang Rusuh di cina

Kalo buat you2 pada yang sempat ngalamin rusuh Mei 98 di jakarta, atau yang masih nyangkut di ingatan saat kacau itu, kira2 kayak gitulah yang terjadi di xinjiang baru2 ini. Alasannya sama saja, ketidakpuasan terhadap pemerintah yang dilampiaskan ke kambing hitam yang ditunjuk. Kalo di jakarta waktu itu yg ngerusuh itu katanya mayoritas yang bawa2 agamanya dan korbannya orang cina yang suku dan agamanya minoritas, di xinjiang malah terbalik. Yang ngerusuh itu minoritas dan sasarannya mayoritas.

Lucunya aksinya sama, kekerasan dan konfliknya dipisahkan oleh kategori suku dan agama juga. Lebih lucu lagi, yang ngerusuh itu bawa agama yang sama dengan yang ngerusuh di jakarta dulu. Ntah emang di agama itu banyak provokatornya yang nyusup buat ngajakin rusuh atau emang orang2nya bermental sama, doyan ngerusuh.

Ujung-ujungnya sih yang disalahin pemerintahnya, karena ga bisa mengayomi rakyatnya dan memberikan kesejahteraan yang merata. Satu pihak bilang pemerintah pilih kasih, satu pihak lagi bilangnya pihak satunya pemalas ga mau kerja. Kalo diinget2, pas dulu juga ada omongan kayak gitu di jakarta. Jadi ga jauh2 ternyata alasannya ya. Coba kalo kita pandang contoh lain, di malaysia mayoritas dengan agama yang sama dengan perusuh2 di jakarta dan xinjiang bisa hidup makmur dan sejahtera kok. Jadi alasan utamanya sepertinya memanglah ekonomi yang diseret2 ke suku dan agama yah. Cuma memang sih ada undang2 rasis yang menguntungkan suku mayoritas dan menekan minoritas di malaysia, sampai2 ada keributan antara mayoritas dengan dua suku minoritas disana kemarin itu.

Pertanyaannya sekarang jadi, apakah perlu dibuat undang2 seperti di malaysia supaya para perusuh di xinjiang dan di jakarta gak ngerusuh lagi? Tapi kalau seperti itu, apakah mereka tidak jadi terlena oleh fasilitas dan menjadi lebih malas berusaha? Mental tempe dong kalo gitu, tempe mah enak dan bergizi, tp kalo dibilang mental tempe mah maksudnya seperti tempe yang dimasak dengan diiris tipis2.

Yang pasti mah, buat menahan laju kemelaratan, manusia perlu sadar untuk tidak seenaknya bikin anak. Jadi pola pikir punya banyak anak itu berkah tuhan dan banyak rejeki itu perlu direvisi, agar sesuai kondisi ekonomi dan lingkungan hidup. Kalo punya anak tapi ga bisa ngurusnya, cuma buat diajarin ngemis atau nyolong mah sama aja dosa. Kalo uda dapat anak perempuan terus, jangan maksa bikin anak terus sampai dapat anak laki trus anak perempuannya ga diperhatiin. Ujung2nya kalo banyak tanggungan kan nyusahin diri sendiri dan keluarga juga. Mbok ya tolong dipikirin toh? Daripada males mikir nantinya ribut2.

-----------------------------------

Xinjiang Makin Berdarah, yang Tewas Bertambah

Selasa, 7 Juli 2009 | 05:02 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Jumlah kematian akibat kekerasan etnik di daerah Xinjiang, China barat laut, naik menjadi 156 orang. Kerusuhan meluas ke kota Kashgar, tempat polisi membubarkan sekitar 200 orang yang berusaha berkumpul, kata media pemerintah, Selasa (7/7).

Pemrotes yang marah dari minoritas Uighur turun ke jalan-jalan di ibu kota wilayah itu, Urumqi, Minggu, dengan membakar dan menghancurkan kendaraan serta pertokoan, dan bentrok dengan polisi antihuru-hara.

Lebih dari 700 orang ditangkap karena dituduh berperan dalam kekerasan itu, kata kantor berita resmi Xinhua. Namun, penduduk setempat mengatakan kepada Reuters bahwa polsi melakukan operasi membabi-buta di daerah-daerah Uighur.

Lebih dari 20.000 polisi khusus dan bersenjata, pasukan, dan pemadam kebakaran dikerahkan dalam penumpasan kekerasan di Urumqi. Meski pengamanan diperketat, kerusuhan tampaknya meluas di wilayah bergolak itu.

Sekitar 200 orang yang "berusaha berkumpul" di masjid Id Kah di pusat kota Silk Road Kashgar dibubarkan oleh polisi pada Senin petang, kata Xinhua.

Polisi juga memperoleh "petunjuk" mengenai upaya-upaya untuk mengatur lagi kerusuhan di kota Aksu dan prefektur Yili, sebuah daerah perbatasan yang dilanda kerusuhan etnik pada akhir 1990-an.

Bersama-sama Tibet, Xinjiang merupakan salah satu kawasan paling rawan politik dan di kedua wilayah itu, pemerintah China berusaha mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan petumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Namun, penduduk minoritas telah lama mengeluhkan bahwa orang China Han mengeruk sebagian besar keuntungan dari subsidi pemerintah, sambil membuat warga setempat merasa seperti orang luar di negeri mereka sendiri.

Beijing mengatakan bahwa kerusuhan itu, yang paling buruk di kawasan tersebut dalam beberapa tahun ini, merupakan pekerjaan dari kelompok-kelompok separatis di luar negeri yang ingin menciptakan wilayah merdeka bagi minoritas muslim Uighur.

Kelompok-kelompok itu membantah mengatur kekerasan tersebut dan mengatakan, kerusuhan itu merupakan hasil dari amarah yang menumpuk terhadap kebijakan pemerintah dan dominasi ekonomi China Han.

---------------------------

Xinjiang Bergolak, Warga China Perang di Internet

Selasa, 7 Juli 2009 | 12:38 WIB

SHANGHAI, KOMPAS.com - Warga China menumpahkan kemarahan mereka secara online terhadap kerusuhan etnis di provinsi muslim Xinjiang yang setidaknya merenggut 156 nyawa.

Mereka mesti main petak umpet untuk menghindari sensor pemerintah yang berusaha menghapus pesan yang di-posting dan blog-blog berisi kecaman.

Kebanyakan dari komentar itu menuntut hukuman keras terhadap mereka yang terlibat. Seakan bersesuaian dengan tuduhan media massa pemerintah terhadap aktivis Uighur di pengasingan, Rebiya Kadeer, sebagai otak kerusuhan di Urumqi, Minggu.

Hampir setengah dari 20 juta penduduk provinsi Xinjiang adalah Uighur Muslim, tetapi mereka sudah lama mengeluhkan etnis Han China karena lebih sering diuntungkan oleh investasi dan subsidi pemerintah pusat. Sementara sebagian besar rakyat beragama Islam yang lebih memiliki kesamaan bahasa dan budaya dengan Asia Tengah, merasa terpinggirkan.

Di samping Tibet, Xinjiang adalah salah satu dari wilayah China yang secara politik sangat sensitif dan di kedua wilayah itu pemerintah berupaya mengetatkan cengkeramannya dengan mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi.

"Hancurkan konspirasi, tindak tegas para penyabot, serang lebih keras lagi," demikian bunyi pesan yang di-posting melalui satu blog milik seseorang yang dikenali dengan "Chang Qing" dalam portal www.sina.com.cn.

Sementara beberapa lainnya memperingatkan bahwa etnis Han, yang menjadi suku mayoritas di China, akan membalas dendam. "Utang darah dibayar darah. Rekan-rekan sesama Han bersatulah dan bangkitlah," tulis "Jason" dalam search engine www.baidu.com.

Beberapa pihak lainnya memuja arwah Wang Zhen, jenderal China yang menghinakan dan ditakuti banyak orang Uighur karena keberingasannya saat memimpin pasukan komunis China memasuki Xinjiang pada 1949 untuk memasukkan wilayah itu ke negara baru, Republik Rakyat China.

"Camkan ini baik-baik," bunyi satu pesan yang di-posting di atas kisah singkat penaklukan Wang yang diambil dari buku sejarah China.

Namun, tak sedikit orang yang berusaha memahami penderitaan orang-orang Uighur. "Jika anggota keluargamu tidak punya hak, tidak punya kekuasaan, menghadapi diskriminasi dan ditertawakan, maka tidak hanya keluargamu yang hancur, kamu sendiri yang menanam benih-benih permusuhan," tulis "Bloody Knife".

Seseorang berinisial "zfc883919" menulis di portal Xinjiang, www.tianya.cn, bahwa tidak bisa memahami mengapa polisi membiarkan begitu banyak korban mati di sana. "Apa gerangan yang kalian kerjakan? Itu 156 jiwa manusia. Saya berharap pihak berwenang yang menangani ini benar-benar mau belajar sehingga tragedi seperti ini tidak terulang."

Pihak berwenang segera mengambil langkah cepat menghapus komentar-komentar berbau kekerasan itu, terutama untuk mencegah menyebarnya kebencian etnis atau pertanyaan awam di internet terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah di kawasan yang didominasi etnis-etnis minoritas non-Han.

Banyak blog yang hanya mem-posting kembali artikel-artikel dari media setempat mengenai kerusuhan itu, tetapi pada bagian di mana pembaca diundang untuk berkomentar, tertulis, "Tidak ada komentar untuk sementara waktu ini," suatu hal yang tidak biasa di tengah populernya blog di kalangan 300 juta pengguna internet di China.

Sejumlah laman yang mem-posting tayangan grafis mengenai tubuh-tubuh yang habis dipukuli dan berdarah-darah, yang diambil selama atau setelah kerusuhan, juga dengan cepat dihapus.

---------------------------

140 Orang Tewas dalam Kerusuhan di Xinjiang

Senin, 6 Juli 2009 | 16:03 WIB

URUMQI, KOMPAS.com - Aksi kekerasan yang berlangsung di wilayah Xinjiang, China menewaskan 140 orang dan mencederai 828 lainnya. Keterangan yang disampaikan oleh seorang pejabat di ibukota Xinjiang, Urumqi, Senin (6/7), menyebutkan aksi kerusuhan yang berlangsung setelah polisi membubarkan demonstran dari sebuah kelompok etnik Muslim.

Jumlah korban tewas itu menjadikan kerusuhan ini sebagai insiden tunggal yang memakan korban jiwa terbesar di Xinjiang dalam beberapa dasawarsa terakhir. Aksi kekerasan di Urumqi itu berlangsung setelah unjuk rasa damai yang diikuti 1.000 hingga 3.000 peserta kemarin menjadi tidak terkendali.

Demonstran membalikkan sejumlah barikade, merusak sejumlah mobil dan rumah serta terlibat bentrokan dengan polisi. Kelompok Uigher di pengasingan menerangkan aksi kekerasan bermula setelah polisi membubarkan unjuk rasa damai.

Kantor berita Xinhua melaporkan 140 orang tewas dan jumlah korban meninggal dunia dikhawatirkan bertambah dalam kerusuhan itu. Ketegangan antara Uighur dan kelompok etnik mayoritas Han kerap terjadi Xinjiang.

Militan Uighur telah melancarkan kampanye separatis melalui aksi kekerasan sporadis. Mayoritas dari 2,3 juta jiwa warga Urumqi berasal dari kelompok etnik Han.

---------------------------

Rusuh di Xinjiang Tewaskan Tiga Warga Sipil

Senin, 6 Juli 2009 | 04:38 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Tiga warga sipil tewas dalam kerusuhan di ibu kota wilayah barat jauh China, Xinjiang, Minggu (5/7), kata kantor berita resmi Xinhua.

Laporan singkat Xinhua mengatakan, korban tewas adalah tiga warga biasa dari kelompok etnik Han.

Mereka tewas dalam kerusuhan di Urumqi yang kata saksi mata dan sumber lain melibatkan anggota-anggota minoritas etnik Uighur, kata kantor berita itu. "Lebih dari 20 orang lain cedera dalam insiden itu dan banyak kendaraan bermotor dibakar," tambah Xinhua.

--------------------------------------

Shalat Jumat Dilarang di Urumqi China

Jumat, 10 Juli 2009 | 13:27 WIB

URUMQI, KOMPAS.com — Masjid-masjid di kota Urumqi, China, dilarang menyelenggarakan shalat Jumat, (10/7), sementara polisi dikerahkan untuk mencegah kemungkinan meletusnya aksi kerusuhan baru antaretnis yang mematikan.

Sejumlah Muslim Uighur mengatakan, mereka telah diperintahkan untuk melaksanakan shalat di rumah saja, pada saat pasukan bersenjata dikerahkan di jalan-jalan di ibu kota wilayah barat laut Xinjiang, lima hari setelah terjadi bentrokan yang menurut pemerintah menewaskan 156 orang.

"Pemerintah mengatakan tidak ada pelaksanaan shalat Jumat," kata seorang pria Uighur, Tursun, di luar Masjid Hantagri, salah satu bangunan tertua di ibu kota, pada saat sekitar 100 polisi membawa senjata mesin dan tongkat berdiri di dekatnya.

"Tidak ada yang bisa kami lakukan ... pemerintah takut bahwa masyarakat akan menggunakan pelaksanaan acara keagamaan itu untuk mendukung tiga kekuatan." Tiga kekuatan itu adalah sebutan pemerintah China terhadap ekstremisme, separatisme, dan terorisme. Kekuatan tersebut dikatakan berusaha memecah wilayah Xinjiang dari sebagai bagian China.

Xinjiang berpenduduk 8 juta suku Uighur yang lama mengaku mendapat tekanan dalam pelaksanaan keagamaan, politik, dan ekonomi oleh penguasa China. Kelompok ini menumpahkan kemarahannya, Minggu, dalam aksi-aksi protes yang cepat menjadi aksi kekerasan.

Pemerintah China mengatakan, 156 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang lainnya cedera, pada saat kaum Muslim Uighur diserang kelompok etnis Han yang dominan.

Namun, orang-orang Uighur di pengasingan mengatakan, pasukan keamanan bersikap berlebihan terhadap aksi-aksi yang dilakukan secara damai itu. Mereka mengatakan, lebih dari 800 orang diduga tewas dalam aksi kerusuhan itu, termasuk petugas keamanan.

Aksi kerusuhan terus berlanjut pada awal pekan ini, pada saat ribuan orang Han tumpah di jalan-jalan bersenjatakan pisau, galah, serta senjata buatan lainnya dan berikrar untuk melakukan balasan terhadap suku Uighur.